Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Mengenal Perang Pandan di Desa Tenganan Bali, Tradisi Unik yang Penuh Makna Keberanian

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

21 - Jun - 2026, 20:20

Placeholder
Tradisi Perang Pandan atau Mekare-kare. (Foto: tangkapan layar Instagram)

JATIMTIMES - Di tengah dentingan gamelan selonding, para pemuda Desa Tenganan saling menyerang menggunakan daun pandan berduri hingga tubuh mereka terluka. Namun, tak ada dendam maupun pemenang dalam tradisi sakral yang telah diwariskan turun-temurun tersebut.

Namanya, tradisi Perang Pandan atau Mekare-kare. Momentum tersebut dibagikan Konten kreator asal Bali, Lady Quinn.

Baca Juga : Ratusan Warga Padati Situs Jolo Lolo, Tradisi Leluhur Polowijen Disambut Antusias

Dalam tradisi tersebut, para pemuda Desa Tenganan tampak saling berhadapan menggunakan beberapa lapis daun pandan berduri sebagai senjata. Mereka hanya dibekali perisai dari rotan untuk melindungi diri dari serangan lawan.

Konten kreator asal Bali, Lady Quinn, mengatakan bahwa seluruh pemuda di Desa Tenganan wajib mengikuti tradisi yang digelar setiap tahun tersebut. Ritual berlangsung dengan iringan gamelan selonding yang menambah nuansa sakral selama prosesi berlangsung.

“Tradisi Mekare-kare atau yang lebih dikenal sebagai Perang Pandan merupakan tradisi yang wajib diikuti oleh para pemuda di Desa Tenganan. Mereka bertarung menggunakan daun pandan berduri sebagai senjata utama dan perisai rotan sebagai satu-satunya pelindung, sembari diiringi alunan gamelan selonding yang menjadi bagian penting dari upacara,” kata Lady Quinn.

Meski tubuh para peserta kerap mengalami luka dan mengeluarkan darah, tidak ada konsep menang atau kalah dalam tradisi tersebut. Para peserta juga dilarang menyimpan amarah ataupun dendam kepada lawannya setelah pertarungan usai.

“Yang menarik, dalam tradisi ini tidak ada pemenang maupun pihak yang kalah. Setelah bertarung dengan penuh semangat hingga tubuh dipenuhi luka, mereka kembali bercengkrama, tertawa, dan makan bersama tanpa ada rasa dendam sedikit pun,” imbuhnya.

Menurut Lady Quinn, Perang Pandan mengandung filosofi tentang keberanian dan jiwa kesatria dalam membela kebenaran. Tradisi tersebut juga mengajarkan agar ego tidak sampai merusak hubungan kekeluargaan di antara masyarakat Desa Tenganan.

Baca Juga : 5 Pilihan Doa Asyura 10 Muharram Lengkap dengan Bacaan Arab, Artinya

“Pada dasarnya, tradisi ini mengajarkan nilai keberanian dan kesiapan untuk menjadi seorang kesatria. Mereka diajarkan untuk berani, tetapi tetap menjaga persaudaraan dan tidak membiarkan ego merusak hubungan antarwarga,” tambah Lady Quinn.

Luka yang dialami para peserta biasanya diobati menggunakan ramuan rempah tradisional yang dikenal dengan sebutan boreh. Sementara darah yang tertumpah dipercaya sebagai bentuk persembahan kepada Dewa Indra yang dihormati sebagai Dewa Perang.

“Bagi masyarakat Desa Tenganan, keberanian, luka, maupun darah yang tertumpah merupakan persembahan bagi Dewa Indra. Kepercayaan itu sudah diwariskan oleh para leluhur dan menjadi bagian dari rangkaian upacara sakral tahunan yang masih dijaga hingga sekarang,” jelasnya.

Tradisi Perang Pandan menjadi salah satu kekayaan budaya khas Desa Tenganan, salah satu desa Bali Aga yang masih mempertahankan adat dan tradisi leluhurnya. Keberlangsungan ritual tersebut sekaligus menjadi simbol kuatnya nilai keberanian, persaudaraan, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Perang Pandan Desa Tenganan Bali Tradisi Unik



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jember Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Hiburan, Seni dan Budaya

Artikel terkait di Hiburan, Seni dan Budaya