Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Imam Asy'ari dan Jalan Tengah antara Akal serta Wahyu dalam Islam

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

07 - Jun - 2026, 09:22

Placeholder
Imam Asy'ari mengajarkan bahwa akal adalah anugerah untuk berpikir, tetapi wahyu adalah cahaya yang memberi arah. Keseimbangan keduanya menjadi fondasi penting dalam memahami ajaran Islam secara moderat dan mendalam (ist)

JATIMTIMES – Perdebatan mengenai posisi akal dan wahyu telah menjadi salah satu tema penting dalam sejarah pemikiran Islam. Di tengah beragam pandangan yang berkembang, Imam Abu Hasan al-Asy'ari, seorang ulama besar Islam yang hidup pada abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, tampil dengan pendekatan yang menempatkan keduanya secara proporsional. Pemikiran yang kemudian menjadi salah satu fondasi Ahlus Sunnah wal Jamaah ini dikenal karena menghindari sikap ekstrem, baik yang terlalu mengandalkan akal maupun yang menafikan peran rasio manusia.

Menurut ulama yang lahir di Basra sekitar tahun 873 M ini, akal memang merupakan anugerah besar yang diberikan Allah kepada manusia. Melalui akal, seseorang dapat mengenali keberadaan Tuhan dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta. Namun, kemampuan akal memiliki batas yang tidak dapat dilampaui. Dalam persoalan penentuan baik dan buruk secara mutlak, menurutnya, manusia tetap memerlukan petunjuk wahyu.

Baca Juga : Harlah Bung Karno ke-125, Wali Kota Blitar: Bung Karno Berkah bagi Bangsa Indonesia

Pandangan tersebut dijelaskan oleh M. Rusydi dalam artikel Konstruksi Pemikiran Kalam al-Asy'ariah yang terbit pada 2014. Menurut Rusydi, Imam Asy'ari berpendapat bahwa akal tidak mempunyai kewenangan untuk menetapkan apakah suatu perbuatan bernilai baik atau buruk secara hakiki. Pengetahuan mengenai hal itu hanya dapat diketahui melalui wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul.

"Menurut al-Asy'ari, akal tidak dapat mengetahui apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk. Pembedaan demikian hanya bisa diketahui melalui wahyu," tulis M. Rusydi dalam kajiannya.

Pandangan ini berangkat dari keyakinan bahwa standar moral yang dibangun semata-mata oleh akal bersifat relatif. Penilaian manusia dapat berubah sesuai situasi, pengalaman, lingkungan sosial, bahkan perkembangan zaman. Sesuatu yang dianggap baik hari ini belum tentu dipandang sama pada masa mendatang.

Sebagai contoh, tindakan membunuh secara umum dinilai sebagai perbuatan buruk. Namun dalam kondisi tertentu, seperti membela diri dari ancaman yang mengancam keselamatan jiwa, tindakan tersebut dapat dibenarkan bahkan menjadi kewajiban. Karena itu, Imam Asy'ari menilai bahwa akal tidak cukup untuk menjadi ukuran mutlak dalam menentukan nilai moral.

Meski demikian, beliau tidak menolak fungsi akal. Akal tetap memiliki peran penting untuk memahami ajaran agama, merenungkan ciptaan Allah, serta mengenali eksistensi Sang Pencipta. Hanya saja, kewajiban untuk beribadah, bersyukur, dan menaati perintah Allah tidak dapat ditetapkan oleh akal semata. Kewajiban-kewajiban tersebut diketahui manusia melalui wahyu.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 44:

"Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur'an), agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan."

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak meniadakan akal, tetapi menempatkannya dalam bimbingan wahyu. Manusia diperintahkan untuk berpikir, namun arah dan pedoman berpikir tetap bersumber dari petunjuk Allah.

Baca Juga : Ternyata Ada 2 Geopark Kelas Dunia di Jawa Timur yang Diakui UNESCO

Dalam kerangka pemikiran Imam Asy'ari, sebelum datangnya wahyu tidak terdapat kewajiban syariat yang mengikat manusia. Karena itu, seseorang yang hidup sebelum menerima ajaran wahyu dan meyakini keberadaan Tuhan dapat disebut beriman, tetapi keyakinan tersebut tidak otomatis menjadikannya berhak memperoleh pahala. Jika Allah memasukkannya ke dalam surga, hal itu merupakan bentuk rahmat dan kemurahan-Nya.

Sebaliknya, orang yang tidak beriman sebelum datangnya wahyu tidak serta-merta dapat dihukum karena belum menerima tuntunan yang menjadi dasar pertanggungjawaban. Pemikiran ini memperlihatkan betapa sentralnya posisi wahyu dalam pandangan Imam Asy'ari.

Menurut beliau, tanpa kehadiran wahyu, manusia akan berjalan mengikuti kehendaknya masing-masing. Kondisi itu berpotensi melahirkan kekacauan karena tidak ada standar yang pasti mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Karena itulah, pengutusan para nabi dan rasul menjadi kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia.

Melalui wahyu, manusia memperoleh petunjuk mengenai tata cara beribadah, hubungan sosial, etika, hukum, hingga tujuan hidup. Wahyu bukan sekadar pelengkap bagi akal, melainkan pedoman yang mengarahkan penggunaan akal agar tetap berada pada jalan yang benar.

Sikap moderat inilah yang membuat Imam Asy'ari menempati posisi penting dalam khazanah intelektual Islam. Ia tidak menafikan kemampuan berpikir manusia, tetapi juga tidak menjadikan akal sebagai sumber kebenaran tertinggi. Dengan menempatkan akal dan wahyu secara seimbang, sosoknya menghadirkan corak pemikiran yang hingga kini menjadi salah satu ciri utama tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah.


Topik

Agama wahyu akal abu hasan alasyari



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jember Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya