Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp 17.730 per Dolar AS Jelang Pengumuman Suku Bunga BI

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

20 - May - 2026, 10:35

Placeholder
Ilustrasi uang rupiah dan dolar. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan siang nanti.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp 17.730 per dolar AS atau turun sekitar 0,20% dibanding perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak awal pekan.

Baca Juga : Honor Guru PAUD di Kabupaten Malang Tersisa Rp 250 Ribu, Insentif Merosot 50 Persen Terdampak Efisiensi

Pada perdagangan Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,31% ke posisi Rp 17.695 per dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Di sisi lain, dolar AS justru bergerak menguat. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,07% ke level 99,398 pada pukul 09.00 WIB.

Pelaku pasar saat ini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dinilai akan sangat menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Keputusan terkait BI Rate menjadi perhatian utama, terutama di tengah tekanan besar pada pasar keuangan domestik.

Mayoritas analis dan pelaku pasar mulai memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga acuan oleh BI. Pelemahan rupiah yang semakin dalam, ditambah tekanan eksternal dari penguatan dolar AS, dinilai membuat ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga semakin terbatas.

Jika BI benar-benar menaikkan suku bunga, maka langkah tersebut akan menjadi kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, terakhir kali BI menaikkan suku bunga terjadi pada April 2024, ketika BI Rate dinaikkan sebesar 25 basis poin dari 6,00% menjadi 6,25%.

Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati kondisi fiskal pemerintah. Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit Rp164,4 triliun atau setara 0,64% terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 30 April 2026.

Baca Juga : GoTo Turunkan Potongan GoRide Jadi 8 Persen, Program GoRide Hemat Dihentikan

Meski masih defisit, angka tersebut menunjukkan perbaikan dibanding posisi Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap PDB. Perbaikan ini ditopang oleh penerimaan perpajakan yang mulai tumbuh dua digit.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kondisi defisit APBN saat ini masih dalam batas yang terkendali.

“Kalau Maret 0,93%, sekarang April jadi 0,64%. Kalau dihitung kasar setahun sekitar 1,8%, tapi analis tentu menghitungnya berbeda,” ujar Purbaya dalam konferensi APBN Kita pada Selasa (19/5/2026).

Dengan kombinasi tekanan eksternal, penguatan dolar AS, dan penantian keputusan suku bunga BI, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.


Topik

Ekonomi Rupiah nilai tukar rupiah Dolar AS rupiah anjlok



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jember Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni