JATIMTIMES - Harga minyak dunia melonjak drastis hingga menembus US$100 per barel, level tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini dipicu meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuat pasar global khawatir terhadap pasokan energi.
Dilansir dari CNBC, Senin (9/3/2026), data perdagangan terbaru menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate melonjak sekitar 18% hingga di atas US$107 per barel. Ini menjadi pertama kalinya harga WTI menembus US$100 sejak Juli 2022.
Baca Juga : Apa Itu Siaga 1 yang Diperintahkan Panglima TNI Dampak Memanasnya Timur Tengah?
Sementara itu, harga minyak acuan global Brent crude juga ikut naik sekitar 16% hingga menembus US$108 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah sejumlah produsen minyak besar di Timur Tengah memangkas produksi. Situasi ini dipicu oleh masih ditutupnya jalur pelayaran penting Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
Beberapa negara penghasil minyak mulai mengurangi produksi. Kuwait mengumumkan pemangkasan output, meski belum menyebutkan jumlah pasti. Sementara produksi minyak di Irak dilaporkan turun hingga 70%.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar global. Banyak analis di Wall Street menilai harga minyak di atas US$100 per barel bisa menjadi titik kritis bagi ekonomi dunia jika konflik tidak segera mereda.
Dampaknya langsung terasa di pasar saham. Kontrak berjangka indeks Dow Jones Industrial Average anjlok sekitar 848 poin atau 1,79% pada awal perdagangan pekan ini.
Sementara itu, S&P 500 futures turun 1,7%, dan Nasdaq-100 futures melemah sekitar 1,9%.
Baca Juga : Sejumlah Ruko di Terminal Tumpang Rusak Tertimpa Pohon Tumbang
Pasar saham Amerika memang sedang tertekan sejak pekan lalu. Indeks Dow Jones tercatat turun sekitar 3%, menjadi penurunan mingguan terbesar dalam hampir satu tahun terakhir.
Menanggapi lonjakan harga minyak, Presiden AS Donald Trump menyebut kenaikan harga energi sebagai konsekuensi yang kecil dibandingkan keamanan global.
Trump mengatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek adalah “harga kecil yang harus dibayar” untuk menghentikan ancaman nuklir Iran.
Meski begitu, konflik di Timur Tengah masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi ini membuat investor global tetap waspada terhadap dampak perang terhadap ekonomi dunia dan stabilitas pasar energi.
