Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Mengenal Drone Shahed-136 Milik Iran, Senjata Murah yang Jadi Tantangan Serius bagi AS

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

07 - Mar - 2026, 14:48

Placeholder
Drone Shahed-136. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Drone tempur buatan Iran bernama Shahed‑136 kembali menjadi sorotan dunia. Drone ini disebut-sebut memainkan peran penting dalam konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada awal 2026.

Sejak serangan yang terjadi pada 28 Februari lalu, Iran dilaporkan mengerahkan ratusan hingga ribuan drone Shahed untuk menyerang berbagai target yang berkaitan dengan kepentingan AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Target tersebut mencakup kedutaan besar, sistem radar, bandara, hingga gedung-gedung strategis.

Baca Juga : Imbas Perang Timur Tengah, Harga Emas Antam Naik Rp 35.000 Jadi Rp 3.059.000 Per Gram

Serangan drone dalam jumlah besar ini menjadi perhatian para pengamat militer karena dinilai sebagai bagian dari strategi perang asimetris yang digunakan Iran untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar.

Drone Murah yang Menyulitkan Pertahanan AS

Menurut laporan NBC News, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut armada drone Iran sebagai ancaman nyata bagi Washington. Ia mengakui bahwa drone tersebut menjadi salah satu target utama sistem pertahanan udara Amerika.

Meski begitu, sejumlah analis menilai situasi ini justru menunjukkan dilema bagi AS. Sistem pertahanan udara canggih yang dimiliki Washington memiliki biaya sangat mahal, sementara drone Shahed relatif murah.

Satu unit drone Shahed-136 diperkirakan hanya berharga sekitar 30.000 hingga 50.000 dolar AS, atau sekitar Rp505 juta hingga Rp843 juta. Sebaliknya, sistem pertahanan seperti MIM‑104 Patriot bernilai jauh lebih mahal, bahkan bisa mencapai puluhan kali lipat dari harga drone tersebut.

Peneliti senior dari lembaga pemikir Stimson Center, Kelly Grieco, mengatakan situasi ini berpotensi menjadi masalah jika konflik berlangsung lama.

“Jika konflik ini berlangsung dalam jangka panjang, mereka mungkin harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Strategi Perang Asimetris Iran

Peneliti dari Centre for Information Resilience, Kyle Glen, menjelaskan bahwa Iran sudah memperhitungkan sejak awal bahwa mereka akan menghadapi militer dengan teknologi yang jauh lebih maju.

Karena itu, Iran mengembangkan strategi perang asimetris, yakni memanfaatkan senjata yang relatif sederhana namun efektif untuk melemahkan lawan yang lebih kuat.

Drone Shahed menjadi contoh nyata dari strategi tersebut. Drone ini diproduksi dengan biaya rendah menggunakan komponen yang mudah diperoleh dan dapat diluncurkan dari kendaraan seperti truk.

Keunggulan lainnya adalah proses produksinya yang lebih sederhana dibandingkan rudal modern yang membutuhkan infrastruktur besar dan biaya jutaan dolar.

“Drone ini memang dirancang Iran untuk perang seperti ini,” kata Glen.

AS Dinilai Belum Belajar dari Perang Ukraina

Analis senior dari Institute for the Study of War, George Barros, menilai penggunaan sistem mahal untuk menghadapi drone murah menunjukkan bahwa AS belum sepenuhnya belajar dari konflik sebelumnya.

Dalam perang antara Rusia dan Ukraina, Rusia juga menggunakan drone Shahed untuk menyerang kota dan infrastruktur Ukraina.

Menurut laporan lembaga analisis keamanan C4ADS, Rusia membeli sekitar 6.000 unit drone Shahed dari Iran pada November 2022.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahkan menyebut bahwa sekitar 57.000 drone serupa telah digunakan Rusia dalam serangan terhadap Ukraina.

Untuk menghadapi ancaman tersebut, Ukraina mengembangkan sistem pertahanan berlapis yang melibatkan unit bergerak, drone pencegat, hingga sistem rudal seperti Patriot.

Barros menilai AS kini menghadapi situasi yang cukup sulit. Permintaan terhadap sistem pertahanan udara Patriot terus meningkat di tengah banyaknya konflik global, sementara kapasitas produksi AS hanya sekitar 600 unit per tahun.

Baca Juga : Kasus Campak Merebak, Ini Imbauan Dokter Anak

Dengan kondisi tersebut, Iran dinilai memiliki peluang untuk terus memproduksi drone murah dalam jumlah besar sambil menguras stok sistem pertahanan lawannya.

Analis dari C4ADS, Omar Al Ghusbi, menyebut situasi ini sebagai ancaman serius bagi stabilitas global.

“Semua indikasi menunjukkan bahwa ini merupakan ancaman serius bagi dunia, bagi negara Barat, dan bagi stabilitas,” ujarnya.

Spesifikasi Drone Shahed-136

Drone Shahed-136 memiliki desain yang relatif sederhana namun efektif untuk misi serangan jarak jauh.

Beberapa spesifikasi utamanya antara lain:

• Panjang sekitar 3,5 meter

• Bentang sayap sekitar 2,5 meter

• Berat sekitar 200 kilogram

• Kecepatan maksimum sekitar 185 km/jam

• Jangkauan hingga 2.000 kilometer

Drone ini biasanya membawa bahan peledak sekitar 50 kilogram. Daya hancurnya memang tidak cukup untuk merobohkan gedung besar, tetapi mampu merusak fasilitas penting.

Salah satu ciri khas Shahed-136 adalah suara mesinnya yang cukup bising. Meski demikian, drone ini tetap berbahaya karena dapat terbang rendah dan mengikuti jalur penerbangan kompleks untuk menghindari deteksi radar.

Dalam beberapa operasi, drone ini juga dapat dikendalikan oleh operator dari jarak jauh sehingga arah penerbangan bisa diubah pada saat-saat terakhir.

Shahed-136 diketahui dikembangkan pada akhir dekade 2010-an dan pertama kali menjadi perhatian internasional pada Juli 2021 setelah digunakan dalam serangan terhadap kapal tanker Israel, Mercer Street.

Dengan biaya produksi rendah dan kemampuan menyerang dalam jumlah besar, drone Shahed-136 kini menjadi salah satu senjata yang paling diperhitungkan dalam konflik modern.


Topik

Peristiwa Drone Shahed Iran Israel Amerika Serikat konflik Timur Tengah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jember Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa