Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pemerintahan

Stok BBM Nasional Terjaga, Masyarakat Diminta Tidak Terjebak Panic Buying

Penulis : Moh. Ali Mahrus - Editor : Yunan Helmy

07 - Mar - 2026, 15:01

Placeholder
Warga Jember saat antre BBM di SPBU.

JATIMTIMES - Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kerap memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Bahkan di Jember antrean di sejumlah SPBU dalam 3 hari ini masih terlihat padat, meski sudah relatif berkurang.

Namun, pakar administrasi negara FISIP Universitas Jember (Umej) Hermanto Rohman mengimbau publik untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong atau panic buying.

Baca Juga : Kronologi Kasus Restoran Bibi Kelinci: Pelanggan Diduga Tak Bayar, namun Pemilik Jadi Tersangka

Menurut Hermanto, istilah ketahanan stok 21 Hari yang sering dirilis oleh Pertamina sering disalahartikan oleh masyarakat awam sebagai hitung mundur menuju habisnya stok.

"Stok 21 hari itu adalah indikator teknis jika tangki penyimpanan dalam kondisi penuh tanpa ada pengisian ulang sama sekali. Faktanya, distribusi dan produksi di kilang domestik berjalan secara kontinu setiap hari. Jadi, tangki tersebut terus terisi kembali secara otomatis," jelas Hermanto.

Terkait ancaman penutupan Selat Hormuz, Hermanto menilai dampaknya terhadap pasokan fisik BBM di Indonesia tidak akan seekstrem yang dikhawatirkan. Meskipun Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global, struktur pengadaan bahan baku minyak (crude oil) Indonesia sudah cukup terdiversifikasi.

"Pertamina tidak hanya bergantung pada negara-negara Arab. Sumber bahan baku kita tersebar mulai dari Amerika Serikat, Rusia, Amerika Latin, hingga China dan Singapura. Keragaman sumber ini menjadi bantalan agar pasokan dalam negeri tetap aman meskipun ada gangguan di satu jalur distribusi internasional," tambahnya.

Hermanto tidak menampik bahwa ketegangan di Timur Tengah biasanya berimbas pada fluktuasi nilai ekonomi. Belajar dari preseden sejarah seperti konflik Irak dan Yaman, gangguan di Selat Hormuz memang berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia pada kisaran 10 persen hingga 20 persen.

Namun, dia menekankan bahwa kenaikan harga adalah variabel yang berbeda dengan ketersediaan barang. "Masalahnya mungkin ada pada penyesuaian harga, tetapi bukan pada hilangnya stok di SPBU. Oleh karena itu, panic buying justru akan menciptakan kekacauan distribusi yang sebenarnya tidak perlu terjadi," tegasnya.

Baca Juga : Peradi Kediri Bahas KUHP dan KUHAP Baru, Advokat Bakal Perkuat Sinergi dengan Polisi dan Pengadilan

Pemerintah melalui Pertamina dianggap sudah memiliki protokol manajemen krisis yang teruji untuk menjaga kedaulatan energi nasional di tengah dinamika global.

Sesuai dengan Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak, dalam hal ini pemegang izin usaha wajib menyediakan cadangan operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari. 

Pencadangan yang dimaksud tergantung pada seberapa jauh pemerintah dan Pertamina memiliki dana untuk menyetok. Bukan hanya bahan-bahan, tetapi juga gudangnya, jalur distribusi, pengapalan dan sebagainya. 


Topik

Pemerintahan BBM stok BBM dampak penutupan selat Hormuz konflik Timur Tengah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jember Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Moh. Ali Mahrus

Editor

Yunan Helmy

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan