Harjakasi ke-207 Situbondo, Miniatur Indonesia Hadir di Alun-Alun
Reporter
Wisnu Bangun Saputro
Editor
Nurlayla Ratri
15 - Aug - 2025, 03:53
JATIMTIMES - Alun-alun Situbondo pada Jumat pagi (15 Agustus 2025) berubah menjadi miniatur Indonesia. Dalam puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-207, ragam budaya dari Sabang sampai Merauke seolah berpadu di satu tempat. Dari busana adat hingga permainan rakyat, semuanya hadir memancarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Mengusung tema “Explore the Tradition and Feel the Experience”, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo menyajikan kemeriahan yang memadukan parade budaya dan festival permainan tradisional. Tak hanya untuk warga lokal, sajian ini juga disiapkan untuk memikat wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Baca Juga : Dorong Pertumbuhan Ekonomi, BI Kediri Gelar Semarak Ekonomi Syariah Wilayah Mataraman 2025
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Prayogo atau Mas Rio, memimpin langsung upacara puncak Harjakasi. Seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tampil kompak mengenakan pakaian adat dari berbagai provinsi di Indonesia.
Barisan peserta upacara menjadi pemandangan yang memukau. Ada keanggunan kebaya Bali, kemegahan songket Palembang, keunikan batik Madura, hingga keelokan tenun Bengkulu. Warna-warni busana itu menciptakan suasana yang benar-benar menyerupai miniatur Indonesia.
Mas Rio menjelaskan, tagline “Agustus Main ke Situbondo” sengaja dipilih untuk mengajak wisatawan datang dan merasakan langsung keragaman budaya yang hidup di kota ini. “Kabupaten lain punya sesuatu yang dijual. Kalau mau main ke Situbondo, harus ada yang khas. Makanya kami pilih permainan tradisional sebagai daya tarik,” ujarnya.
Permainan rakyat yang nyaris punah seperti gobak sodor, egrang, dan bakiak kembali dimainkan. Bukan sekadar pertunjukan, tetapi dilombakan dengan melibatkan semua kalangan usia, dari anak-anak hingga orang tua. “Permainan yang sudah tidak dikenal lagi akan kita hidupkan kembali,” kata Mas Rio.
Sejak awal Agustus, sejumlah mahasiswa asing sudah datang untuk menyaksikan langsung festival ini. Menurut Mas Rio, mereka mengaku terkesan dengan kehangatan interaksi dalam permainan rakyat. “Katanya, pengalaman ini tidak akan mereka lupakan,” ungkapnya.
Bupati optimistis, sajian budaya Situbondo akan menjadi magnet wisata. Ia menargetkan kunjungan dari Australia, Rusia, China, hingga negara-negara Eropa. “Meski belum besar, tahap demi tahap akan kami lakukan,” tegasnya.
Baca Juga : Soal PBB, Fraksi Nasdem Dorong Pemkot Malang Segera Terbitkan Perwal
Selain untuk pariwisata, permainan tradisional dinilai memiliki nilai penting bagi generasi muda. “Di tengah era digital yang memicu individualisme, permainan tradisional mengajarkan kebersamaan, kerja sama, dan gotong royong,” jelasnya.
Upacara Harjakasi juga menjadi ajang pamer busana adat Nusantara. Mas Rio sendiri tampil mengenakan pakaian adat “pandhelungan”, perpaduan Jawa dan Situbondo yang mencerminkan latar belakang keluarganya.
Dengan kemasan seperti miniatur Indonesia, Harjakasi ke-207 diharapkan mampu menjadi momentum besar dalam promosi wisata budaya. Pemkab Situbondo berkomitmen menjadikan warisan budaya ini sebagai identitas sekaligus magnet ekonomi kreatif daerah.
