Pancasila dalam Pembelajaran Jiwa Merdeka | Jember TIMES

Pancasila dalam Pembelajaran Jiwa Merdeka

Aug 30, 2021 16:22
Whedy Prasetyo.(Foto : Istimewa/Dok Pribadi)
Whedy Prasetyo.(Foto : Istimewa/Dok Pribadi)

Sesuatu yang alamiah jika individu menginginkan yang terbaik. Sesuatu yang mulia jika ada kehendak untuk maju mencapai kondisi yang lebih baik lagi. Dalam hal ini pembanding diperlukan. Apakah membandingkan satu hal dengan hal lain yang setara; atau membandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Penjelasan yang sejalan dengan makna hasil dari program inovatif dan kolaborasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi memberikan hak belajar mahasiswa untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi. Aktivitas ini sebagai perwujudan jalinan hasil kerja sama dengan berbagai kampus di luar. Esensi kerja sama ini memberikan kesempatan mahasiswa mengikuti 1 (satu) semester atau setara dengan 20 (dua puluh) SKS pembelajaran di luar Program Studi pada Perguruan Tinggi yang sama, dan paling lama 2 (dua) semester atau setara dengan 40 (empat puluh) SKS pembelajaran pada prodi yang sama di Perguruan Tinggi yang berbeda, yaitu pembelajaran pada prodi yang berbeda di PT yang berbeda atau pembelajaran di luar PT.

Baca Juga : Tinjau Sekolah, Wali Kota Sutiaji Pastikan PTM di Kota Malang Siap Digelar Kembali

Program tersebut memberikan dampak inspirasi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia menjadi agenda pembangunan nasional 2020-2024, serta menarik untuk lebih mengenal lingkungan di luar dengan baik, sehingga memotivasi semangat tanggung jawab pembelajarannya.

Selanjutnya mendapatkan soft skill berinteraksi mengenal lingkungan pembelajaran di luar lingkungan Kampus dengan kelebihan dan “keunikan” proses pembelajarannya. Pencapaian ini menumbuhkan Jiwa Merdeka, yaitu “Hanya dan Diri”. “Hanya” mampu dicapai ketika semangat para akademis (dosen-mahasiswa) mengharapkan dalam “Diri” tentang lebih dalam menerima perubahan laskap akademik pembelajaran saat ini. “Hanya” dan “Diri” memberikan pembentukan suasana pembelajaran menjadi lebih kreatif dan inovatif merespon perkembangan lingkungan.

Perkembangan adaptif diri pengarusutamaan pendidikan menjadi positif terhadap iklim pengembangan keilmuan. Keilmuan yang memposisikan saling mendukung dan setara, yaitu kapabilitas, artinya tujuan capaian belajar yang lebih terbuka atau belajar transdisipliner. Kesadaran ini membuat hampusnya keangkuhan dalam mentotaliterkan keilmuan pada satu bidang saja.

Sifat akademis ini membutuhkan keterbukaan untuk membentuk academic atmosphere dan kenyamanan iklim pembelajaran transdisipliner yang dinamis dan fleksibel. Transdisipliner merupakan inovasi kurikulum secara berkelanjutan menyentuh dataran proses dan pengalaman belajar bersama (Dosen-Mahasiswa) serta kurikulum.

Interaksi kedua subyek utama pendidikan ini bukan sekedar capaian instrumental input dalam praksis pendidikan, namun pada multi skills proses belajar yang metakompetensi. Proses belajar yang lebih terbuka dengan kurikulum transdisipliner dari pertumbuhan disiplin-disiplin ilmu untuk menghadirkan inspirasi yang inspiratif dengan dukungan nilai Pancasila.

Dukungan nilai Pancasila memberikan puncak interaksi sosial yang dimiliki atas “rasa dan bakti” mangertos (paham) terhadap rasa ungkul (bathin utuh) di dalam diri pribadinya sendiri yang tertuang dalam penjabaran 36 butir-butir yang luhur sebagaimana ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 Tentang Ekaprasetia Pancakarsa.

Nilai Pancasila tersebut membuat MBKM tersebut memberikan tolak ukur pada diri mahasiswa untuk memberikan masukan dalam proses evaluasi, sehingga dapat diketahui sudah sejauh apa melangkah dan sisi mana yang masih perlu untuk dikembangkan. Konstruk pengukuran ini memberikan kesesuaian dengan tujuan yang hendak dicapai. Jika tujuannya untuk evaluasi proses, selayaknya program pertukaran pembelajaran MBKM sebagai data masukan.

Konsep ini memberikan pengaruh inspiratif untuk membuat proses perkuliahan menjadi menarik dengan tumbuhnya daya analistis dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena peran kedua subyek memberikan masukan untuk: Pertama, perubahan pola pikir atau orientasi dalam bentuk karya ide, pemikiran, pengetahuan, dan teori.

Perubahan ini akan tercermin dari neraca aktivitas tanggung jawab pembelajaran apakah akan lebih diwarnai mengunggah atau mengunduh. Orientasi mengunggah dengan memperbanyak inovatif pembelajaran dari hasil MBKM, sehingga memberikan warna bagi pengetahuan. Perubahan orientasi ini penting seiring harapan publik sejak dulu yang menganggap mahasiswa adalah sumber perubahan, penentu kecenderungan dan bukan menjadi penikmat perubahan lingkungan yang berlangsung.

Kedua, pengembangan keilmuan yang lebih terbuka responsif bagi lingkungan dengan tetap menumbuhkan tanggung jawab dan dimensi kemanusiaan dalam inovasinya. Pencapaian ini menumbuhkan keterbukan kedua subyek untuk menerima, bahwa lingkungan menjadi faktor penentu pengembangan kurikulum.

Ketiga, transformasi pembelajaran yang adaftif terhadap pencapaian lulusan yang terserap lingkungan kerja. Di sinilah peran aktif mahasiswa memberikan pengalaman pertukaran suasana pembelajaran yang terintegrasi dan harmonisasi kurikulum mampu memperkuat karakter, kompetensi dan soft skill mahasiswa yang kompatibel dengan tuntutan perubahan. Pencapaian jiwa merdeka ini memberikan keterbukaan tanggung jawab pembelajaran yang selaras dan bersinergi dengan perubahaan. Pencapaian yang memberikan peta pendidikan jiwa merdeka individu mampu berempati, bekerja sama dan saling melayani dengan individu lain sehingga ketidakadilan perkembangan dapat terkurangi, dengan tetap mempunyai roh dan jati diri Bangsa dengan berakar kuat pada budaya luhur Nusantara sendiri...SELAMAT DATANG DI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS JEMBER SEBAGAI KAMPUS PANCASILA.   

Penulis : Whedy Prasetyo, Tenaga Pendidik Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jalan Kalimatan No.37 Kampus Bumi Tegal Boto-Universitas Jembern dengan pendidikan terakhir adalah Doktor Ilmu Akuntansi dengan konsentrasi Akuntansi Kejawen (Sosial Budaya)No. Hp; 081235381999

Topik
whedy prasetyo

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya