JATIMTIMES – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus mencari terobosan strategis untuk memperkuat rantai pasok dan distribusi hasil pertanian serta produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Koperasi kini diposisikan sebagai wadah prioritas utama yang siap menjadi alternatif pengelolaan distribusi barang daerah di luar mekanisme lelang formal.
Langkah ini diambil guna memastikan penyerapan produk lokal dapat berjalan lebih fleksibel, cepat, dan berdampak langsung pada kesejahteraan para pelaku usaha serta petani di Kota Batu.
Baca Juga : 22 Peserta Ikuti Pelatihan Menjahit Vest, Disperindag Tulungagung Harap Jadi Bekal Buka Usaha
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa peran koperasi sangat krusial dalam skema pengadaan dan rantai distribusi daerah. Menurutnya, keterbatasan mekanisme lelang tidak boleh menjadi penghambat masuknya produk-produk lokal ke jaringan pasar yang lebih luas.
"Walaupun tidak bisa lelang, maka koperasilah menjadi salah satu yang kita prioritaskan. Kemudian, melalui koperasi ini kita bisa menjaga mutu, kualitas barang itu dengan melakukan edukasi langsung kepada masyarakat," ujar Nurochman saat memberikan arahan dalam agenda pelatihan perkoperasian di Kota Batu, Selasa (28/7/2026).
Nurochman menjelaskan, kehadiran koperasi tidak sekadar menjadi penyalur barang, melainkan juga instrumen untuk membuka akses pembiayaan yang terukur serta memperluas jangkauan pasar. Penguatan skema ini diyakini mampu mendongkrak nilai tambah produk pertanian yang selama ini kerap terbentur perbedaan harga cukup signifikan antara pasar tradisional dan pasar modern.
"Membuka akses pembiayaan, sebab nanti diskemakan. Koperasi-koperasi kita ini bagi yang sudah punya kemampuan permodalan yang besar itu tidak lagi membutuhkan akses pembiayaan. Nah, membantu memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan nilai tambah. Karena produk pertanian yang di pasar tradisional nilainya tentu berbeda dengan di pasar modern," bebernya.
Orang nomor satu di Pemkot Batu tersebut mendorong seluruh pengurus koperasi untuk merancang desain besar (grand design) transformasi organisasi yang matang. Hal ini penting agar komoditas unggulan petani dan UMKM Kota Batu memiliki standar kualitas tinggi dan mampu menembus rak-rak toko ritel modern hingga luar daerah.
Sejumlah langkah konkret kemitraan pun mulai membuahkan hasil. Saat ini, skema kerja sama pasokan produk lokal melalui jaringan ritel modern telah mencatatkan nilai transaksi lebih dari Rp254 juta, disusul dengan penjajakan kerja sama strategis berupa Memorandum of Understanding (MoU) bersama pasokan jaringan Lotte Mart di Bali.
Baca Juga : Pendirian URI Tak Sesuai Prosedur, Mahfud MD Sebut Prabowo Terlalu Spontan
"Mimpi besarnya melalui koperasi-koperasi di Kota Batu, petani dan UMKM ini menghasilkan produk yang berkualitas. Beberapa kemitraan sudah dilakukan, ada toko retail yang senilai Rp254 juta lebih. Kemudian untuk Lotte Mart yang ada di Bali sudah ada MoU, tinggal kita memupayakan apa-apa yang menjadi kebutuhan itu bisa tersedia dan berkelanjutan," jelasnya.
Meski demikian, Nurochman secara terbuka mengajak seluruh insan koperasi untuk bersikap realistis dalam mengurai berbagai persoalan internal, khususnya menyangkut keterbatasan permodalan yang dialami sebagian besar koperasi.
Pemkot Batu secara sengaja tidak memberikan perlakuan istimewa atau intervensi modal yang berlebihan. Hal tersebut bertujuan agar koperasi-koperasi di Kota Batu tumbuh secara alami, mandiri, dan mengedepankan asas profesionalisme dalam menjalankan roda usahanya.
"Dan memang kami biarkan seperti itu karena supaya tidak ada perlakuan istimewa, perlakuan khusus dibanding dengan koperasi yang lain. Biarkan kemandirian itu menjadi salah satu pembuktian bahwa profesionalisme itu akan menjadi ukuran. Sehingga keterbatasan permodalan menjadi persoalan-persoalan yang secara umum terjadi di koperasi-koperasi kita," tegas Nurochman.
