Plt Bupati Jember KH A. Muqit Arief (foto : istimewa / Jatim TIMES)
Plt Bupati Jember KH A. Muqit Arief (foto : istimewa / Jatim TIMES)

Pemkab Jember mempertimbangkan hotel berbintang menjadi tempat isolasi khusus untuk penanganan pasien covid-19. Hal ini dilakukan seiring  terus melonjaknya tambahan pasien positif covid-19 di Jember selama dua minggu terakhir.

 “Ya ini seperti yang kemarin dibicarakan dalam rapat dengan pemerintah pusat dan juga sudah dilakukan di beberapa daerah lain. Jember juga harus mempersiapkan tempat isolasi khusus dengan menyewa hotel bintang dua dan tiga,” ujar Plt Bupati Jember Abdul Muqit Arief kepada wartawan.

Baca Juga : PSBL Desa Tlekung, Siapkan Kebutuhan Makan 1.670 Warga

Berdasarkan data terakhir, pada Minggu malam kemarin, tercatat ada penambahan kasus positif covid-19 di Jember mencapai 62 orang. Adapun pasien sembuh pada Minggu mencapai 29 orang.

Dengan demikian, total di Jember terdapat 2.383 kasus positif dengan rincian 1.728 orang atau 72,51 persen di antaranya sudah dinyatakan sembuh. Adapun yang masih menjalani perawatan mencapai 548 orang atau 23 persen. Sedangkan 107 orang atau 4,49 persen meninggal. 

Melonjaknya tambahan pasien positif covid-19 di Jember dalam dua minggu terakhir menjadi sorotan berbagai pihak. Sebab, enambahan itu menempatkan Jember sebagai kabupaten/kota dengan tambahan kasus positif tertinggi di Jawa Timur. Peringkat kedua diduduki Surabaya dan ketiga adalah Banyuwangi.

Meski demikian, di Jember persentase dan jumlah angka kesembuhan tertinggi. Disusul tingkat kedua adalah Surabaya dan ketiga Kabupaten Blitar.

Atas hal tersebut, Plt Bupati Jember Abdul Muqit Arief kembali mengimbau warganya untuk semakin disiplin menjalankan protokol kesehatan. Pasalnya, sejak pemerintah pusat menggulirkan adaptasi kenormalan baru, disinyalir masyarakat mulai kendor untuk menjalankan protokol kesehatan. 

“Jangan kita menganggap adaptasi kenormalan baru berarti hidup seperti sebelum ada covid. Bukan seperti itu. Tetapi kita harus tetap berusaha beraktivitas seperti biasa dengan tetap taat pada protokol kesehatan,” ucap Muqit. 

Baca Juga : Penuh, Gugus Tugas Persiapkan Lokasi Perawatan dan Karantina Baru

Maraknya acara yang berpotensi mengundang kerumunan pasca-pelonggaran new normal juga menjadi sorotan Muqit. “Sekarang ini banyak acara kerumunan seperti pengajian dan perkawinan. Kami sangat berharap agar protokol kesehatan benar-benar ditingkatkan,” ujar dia.

Pemkab juga menyebut, ada kecenderungan masyarakat memakai masker dengan cara yang salah. “Sering terjadi orang memakai masker, tetapi diturunkan hingga ke dagu atau mulut. Seharusnya menutup mulut dan hidung. Juga harus sering mencuci tangan karena kita sering menyentuh barang yang banyak dipegang orang lain,” papar pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember, ini. 

Penggunaan masker, menurut Muqit, bukan sekadar untuk melindungi diri sendiri. “Karena bisa jadi kita ini terpapar covid tapi masuk kategori OTG (orang tanpa gejala). Karena kita imunnya kuat, tidak ada gejala. Tetapi ada orang lain yang rentan seperti balita, lansia dan kelompok rentan lainnya seperti punya penyakit bawaan (kormobid) yang akut,” pungkas Muqit.