Situasi dan kondisi saat pihak kepolisian memberikan pengarahan kepada warga yang berjaga-jaga di rumah Purwati agar segera membubarkan diri, Senin (14/9/2020). (Foto: Istimewa)
Situasi dan kondisi saat pihak kepolisian memberikan pengarahan kepada warga yang berjaga-jaga di rumah Purwati agar segera membubarkan diri, Senin (14/9/2020). (Foto: Istimewa)

Konflik horizontal antara masyarakat petani jeruk di Desa Selorejo makin memanas. Kontak fisik bahkan nyaris terjadi karena ada sekelompok masa aksi yang melakukan konvoi demonstrasi. 

Seperti diketahui, permasalahan yang muncul sejak April lalu makin berlarut-larut hingga memasuki September ini. Belum ada solusi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang bagi kedua belah pihak yang berseteru.

Baca Juga : Sekda Kabupaten Malang Kukuhkan Forkom BUMDes Kabupaten Malang

 

Konflik ini berawal dari ketidaksepahaman antara pihak petani jeruk selaku penyewa lahan TKD (Tanah Kas Desa) yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Rejeki dengan Pemerintah Desa Selorejo selaku pemegang kuasa atas lahan TKD tersebut.

Situasi semakin memanas dan urusannya menjadi melebar ketika kelompok masyarakat bukan penyewa lahan TKD melakukan aksi dan konvoi. Mereka menggunakan satu mobil soundsystem dari Balai Desa Selorejo menuju ke rumah Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Purwati.

Ratusan orang menggunakan sepeda motor menggeruduk rumah Purwati. Salah satu pendemo berteriak menuntut pada para penyewa lahan TKD untuk mengembalikan lahan TKD.

"Kembalikan lahan TKD kepada pihak desa untuk menyejahterakan masyarakat," teriak salah satu pendemo dalam perjalanannya menuju rumah Purwati.

Belum diketahui secara pasti siapa yang menyuruh ratusan orang tersebut. Menurut keterangan Purwati orang-orang tersebut bukan penyewa lahan TKD. Tetapi yang jelas, ratusan orang tersebut berangkat dari Kantor Balai Desa Selorejo, Dau Kecamatan, Kabupaten Malang.

Sedangkan Purwati yang berada di kediamannya bersama puluhan warga lainnya yang notabene merupakan penyewa lahan TKD mengatakan, hingga sampai saat ini pihaknya masih menunggu tim pencari fakta (TPF) yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten (pemkab) Malang bersama aparat kepolisian dan tentara.

"Kita di sini sudah sabar menunggu tim dari Kabupaten Malang. Tapi nggak tau moro-moro (tiba-tiba, red) ada yang mau demo ke rumah saya, kan nggak bener, salah sasaran," ungkapnya ketika ditemui di kediamannya bersama puluhan warga yang berjaga-jaga.

Saat ditanya mengenai tuntutan dari para pendemo, Purwati menyebutkan bahwa pada warga yang melakukan demonstrasi tersebut menuntut pengembalian lahan TKD yang merupakan aset desa.

"Katanya tuntutannya tadi mau minta hak aset desa. Lah saya kan bukan apa-apa, saya masyarakat tidak tahu menahu tentang aset desa kan," herannya.

Purwati pun mengatakan bahwa berdasarkan pemantauannya, orang-orang yang terlibat pada aksi demontrasi tersebut merupakan warga dari Desa Selorejo. "Tadi kalau saya lihat ada warga dari sini (Dusun Selokerto, red) dan warga Desa Selorejo juga ada," ungkapnya.

Sementara itu, aksi demontrasi yang diikuti oleh ratusan orang tersebut, digelar tanpa izin. Pihak kepolisian dari Polres Malang dan Polsek Dau dibantu dengan aparat dari Koramil dan Linmas setempat membubarkan massa aksi.

"Situasinya aman dapat dikendalikan oleh tiga pilar yang ada di Desa Selorejo dan kita bubarkan. Tidak ada kontak fisik," tegas Kapolsek Dau, AKP Syabain.

Sedangkan perwakilan dari pihak Pemerintah Desa Selorejo, yakni Wiyono selaku Kepala Urusan Umum mengatakan bahwa dirinya berharap agar konflik yang terjadi ini dan sekarang telah melebar menjadi konflik antar warga untuk segera diselesaikan oleh Kepala Desa Selorejo.

Baca Juga : Update Covid-19 Kota Batu Tiga Hari Landai, Kini Masuk Zona Oranye

 

"Ya saya minta kepada pak Kepala Desa (Bambang Soponyono, red) untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Agar masyarakat dapat bersama-sama dalam membangun desanya," harapnya.

Wiyono pun mengaku tidak tahu menahu tentang ratusan masyarakat yang menggelar aksi demonstrasi dengan berangkat dari Kantor Balai Desa Selorejo tersebut. Tetapi menurut pantauan Wiyono, orang-orang tersebut memang merupakan warga Desa Selorejo.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak polisi dari Polres Malang dan Polsek Dau yang telah membubarkan warga, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (sekda) Kabupaten Malang yang juga sebagai Ketua Tim Pencari Fakta, Wahyu Hidayat ketika dikonfirmasi mengenai konflik horizontal antar warga tersebut mengatakan kejadian tersebut akan dimasukkan sebagai bahan pertimbangan.

"Tentu ini akan jadi bahan penilaian dan jadi bahan pembahasan oleh tim," ujarnya.

Karena dengan adanya aksi demonstrasi tersebut dengan mengumpulkan ratusan orang, berarti masyarakat tidak menghormati hasil-hasil mediasi yang telah dilakukan oleh Pemkab Malang.

"Kalau mereka seperti itu, artinya mereka tidak menghormati kesepakatan saat rapat (mediasi, red) kemarin," tegasnya.

Padahal Wahyu sudah mewanti-wanti bahwa tim pencari hingga sampai saat ini sedang dalam tahap proses pengumpulan data-data sekunder yang juga membutuhkan waktu dan tenaga ekstra di tengah pandemi Covid-19.

"Ini tim pencari fakta untuk mendapatkan solusi butuh waktu. Untuk mendapatkan data-datanya kan jelas butuh tenaga ekstra," pungkasnya.

Sebagai informasi dari keterangan beberapa warga, bahwa Kepala Desa Selorejo, Bambang Soponyono ketika adanya aksi demontrasi tersebut terpantau sedang mengendarai mobil menuju ke arah selatan dengan tergesa-gesa.