Ilustrasi. (Foto: iStock).
Ilustrasi. (Foto: iStock).

Tanpa gejala, happy hypoxia atau silent hypoxemia bisa mengancam jiwa atau menyebabkan kematian pada pasien yang terinfeksi Covid-19.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan ilmiah yang pasti dan jelas terkait happy hypoxia yang muncul di tubuh pasien dengan Covid-19.

Baca Juga : Pelanggar Protokol Kesehatan Capai 175 Orang, Bupati: Masyarakat Harus Lebih Disiplin

Silent hypoxemia atau happy hypoxia adalah kondisi kurangnya kadar oksigen dalam darah, tetapi tidak menimbulkan gejala atau keluhan sakit pada organ-organ tubuh.

Seorang pasien happy hypoxia dalam kondisi baik-baik saja, tetapi secara tiba-tiba kadar oksigennya drop atau menurun, hingga berakibat fatal.

Lantas, faktor apa saja yang memunculkan happy hypoxia?

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif mengatakan ada tiga faktor yang mempengaruhi seseorang bisa mengalami happy hypoxia.

"Yang mempengaruhi happy hypoxia itu imunitas, usia, dan penyakit penyerta. Imunitas baik, penyakit penyerta nggak ada, maka kemunculan happy hypoxia sangat kecil," ujarnya.

Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dalam kemunculan happy hypoxia. Seperti imunitas, dalam hal ini Husnul menjelaskan jika tubuh seseorang terjadi penurunan imunitas maka akan sangat mudah terserang oleh virus Covid-19 termasuk munculnya happy hypoxia.

Karenanya, masyarakat harus tetap menjaga tubuh dengan asupan gizi seimbang dan menjaga diri untuk tetap bersih dan sehat.

Baca Juga : Pekan Menyusui Dunia Sebentar Lagi, Dinkes Kota Malang Ajak Kaum Ibu Ikut Lomba Ini

Kemudian usia, dalam hal ini memang tidak ada penjelasan terkait kemunculan happy hypoxia akan menyerang seorang di rentang usia apapun. Baik usia produktif hingga lansia disinyalir sangat bisa terjangkit.

Selanjutnya, komorbid atau penyakit penyerta juga menjadi perhatian khusus. Seorang dengan penyakit bawaan seperti hipertensiz jantung, paru-paru, pneumonia, diabetes melitus dan yang lainnya akan sangat mudah terserang virus apabila tidak dikelola dengan baik.

"Mungkin di usia produktif juga bisa terserang. Tapi jangan dilupakan, imunitas turun dan penyakit penyerta itu akan memunculkan Happy Hypoxia," tandasnya.

Karenanya, masyarakat Kota Malang khususnya yang memiliki penyakit penyerta harus mengelola kesehatannya dengan baik. Seperti selalu menerapkan pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan olahraga, serta memenuhi asupan gizi seimbang dengan perbanyak makan buah dan sayur.