Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Nama Hakim bin Hizam tentu tak asing di telinga umat muslim. Karena ia merupakan seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW.

Bahkan, ia juga menjadi kerabat dari Rasulullah SAW setelah Rasulullah SAW menikahi bibinya yaitu Khadijah RA.

Baca Juga : Suka Berbagi dan Enggan Berselisih, Rasulullah SAW Sebut Orang Ini Sebaik-baiknya Lelaki

Dalam berbagai riwayat disebutkan, Hakim bin Hizam ini merupakan salah satu sahabat utama Rasulullah SAW.

Namun ternyata, meski lama berteman baik dan berkerabat dengan Rasulullah SAW, Hakim bin Hizam tak lantas bergegas masuk Islam.

Pria yang terlahir kaya raya dan memiliki sikap dermawan itu baru masuk Islam saat Rasulullah SAW menaklukkan Makkah, atau sekitar 20 tahun pasca Rasulullah SAW melakukan dakwah Islam secara terang-terangan.

Ustadz Indra Rustam Lc dalam sebuah kesempatan menyampaikan, Hakim bin Hizam dilahirkan di dalam Kakbah.

Saat itu, tengah dilaksanakan sebuah festival, di mana masyarakat Makkah diperbolehkan masuk ke dalam kakbah.

Namun sang ibu saat itu tengah hamil dan merasakan akan melahirkan.

Kakinya tak dapat digerakkan, sehingga dia dibantu orang-orang dengan alas seadanya dan melahirkan di dalam Kakbah.

Berdasarkan riwayat yang ada, Hakim bin Hizam disebut terpaut usia lima tahun lebih tua dari Rasulullah SAW.

Namun dalam riwayat lain disebutkan jika Hakim bin Hizam lebih tua 13 tahun dibanding Rasulullah SAW.

Hakim bin Hizam berteman baik dengan Rasulullah SAW sebelum Rasulullah SAW menikahi bibinya, Khadijah RA.

Bahkan, saat masih kecil keduanya juga menjadi teman bermain.

Perbedaan usia di antara keduanya bukan menjadi halangan bagi keduanya untuk menjadi teman dan sahabat yang baik.

Karena Hakim bin Hizam pada dasarnya memiliki budi pekerti baik, kaya raya, berpendidikan, dan adab yang sangat tinggi.

Baca Juga : 8 Tahun Dampingi Rasulullah SAW, Ini Sahabat yang Wafat Paling Akhir

Saat dewasa, Hakim bin Hizam diberi tugas menjadi pemangku jabatan sebagai orang yang bertanggung jawab yang membantu jemaah haji yang kekurangan bekal.

Dengan pribadi pemurah, Hakim yang merupakan sosok yang kaya raya selalu membantu jemaah haji yang kekurangan bekal dengan uang pribadinya.

Hubungan Hakim bin Hizam semakin erat setelah Rasulullah SAW menikahi bibinya yaitu Khadijah RA.

Hari-hari dan kedekatan antara Rasulullah SAW dan Hakim bin Hizam pun berjalan tanpa ada kalimat syahadat dari Hakim bin Hizam.

Rasulullah SAW pun pernah berkata kepada sahabat, "Ada empat orang di Makkah yang aku ingin agar mereka bersedia memeluk agama Islam."

Sahabat lantas bertanya, "Siapa saja mereka itu ya Rasul?".

Rasulullah SAW menjawab, "Mereka antara lain Attab bin Usayd, Jubayr bin Mutim, Hakim bin Hazm dan Suhayl bin Amr," jawab Rasul.

Dengan ridha Allah SWT, Hakim bin Hizam pun memeluk Islam dengan sepenuh hati ketika Rasulullah SAW menaklukkan Makkah.

Hakim yang menyadari kekeliruannya itupun menangis di hadapan putranya. Lalu putranya pun bertanya apa yang membuat ayahnya menangis.

Kemudian Hakim bin Hisyam menjawab, "Banyak hal yang membuatku menangis, anakku. Yang terutama adalah begitu lamanya waktu bagi aku untuk memeluk Islam. Padahal, dengan menerima ajaran Islam banyak kesempatan dapat diraih untuk melaksanakan kebaikan, tetapi itulah yang nyatanya telah aku lewatkan. Hidupku tersia-sia ketika Perang Badar dan Perang Uhud,".

"Setelah Uhud, aku berkata pada diri sendiri, bahwa aku tidak akan lagi membantu kaum kafir Quraisy melawan Muhammad, dan aku tidak ingin meninggalkan Makkah. Saat aku merasa ingin menerima Islam, aku segera berpaling dan melihat orang-orang di sekelilingku yang kebanyakan kaum kafir Quraisy, untuk kemudian bergabung kembali dengan mereka. Andai aku tidak berlaku seperti itu. Tidak ada yang dapat menghancurkan kita selain ketaatan buta kita terhadap nenek moyang. Jadi, kenapa aku tidak menangis, anakku?," sesalnya.