Kalender Jawa Weton Minggu Pon 5 Juli 2026: Hindari Menggali Tanah
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
05 - Jul - 2026, 07:23
JATIMTIMES - Minggu (5 Juli 2026) bertepatan dengan pasaran Pon dalam penanggalan Jawa. Berdasarkan kalender Jawa, hari ini jatuh pada 20 Sura 1960 Tahun Be atau bertepatan dengan 20 Muharam 1448 Hijriah. Hari ini juga berada dalam Wuku Mandhasiya dengan weton Minggu Pon yang memiliki jumlah neptu 12, terdiri dari Minggu bernilai 5 dan Pon bernilai 7.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, weton dipercaya dapat menggambarkan karakter, rezeki, jodoh, hingga perjalanan hidup seseorang. Hingga kini, primbon Jawa masih menjadi pedoman bagi sebagian masyarakat untuk menentukan waktu yang dianggap baik dalam berbagai aktivitas, seperti memulai usaha, menikah, hingga melakukan perjalanan.
Baca Juga : Catat! 4 Gunung Ini Tutup Sementara Juli-Agustus 2026
Orang yang lahir pada weton Minggu Pon dikenal memiliki wawasan luas, kaya ilmu, serta mempunyai banyak cita-cita dan keinginan. Selain itu, weton ini juga diyakini mampu menjadi penerang hati orang lain karena sikapnya yang bijaksana dan mampu memberikan solusi saat menghadapi persoalan.
Menurut primbon Jawa, Pangarasan weton Minggu Pon adalah Aras Kembang, yang berarti gampang tampa sihing panggedhe atau mudah memperoleh kasih sayang dari atasan maupun orang yang memiliki kedudukan. Hal tersebut diyakini berasal dari perasaan yang halus sehingga mudah menarik simpati orang lain. Karisma tersebut juga membuat pemilik weton ini memiliki daya tarik tersendiri di hadapan lawan jenis.
Sementara itu, Pancasuda Minggu Pon adalah Bumi Kapetak. Maknanya menggambarkan pribadi pekerja keras, kuat menghadapi kekecewaan, serta menyukai kerapian dan kebersihan. Meski demikian, weton ini juga memiliki sisi negatif berupa sifat pendendam, sementara berbagai kebaikan yang dilakukan sering kali kurang mendapatkan perhatian dari orang lain.
Hari ini berada dalam Wuku Mandhasiya yang dilambangkan dengan Bathara Brama. Wuku ini menggambarkan karakter yang tegas, keras pendirian, dan sulit memaafkan kesalahan jika amarah sudah memuncak. Namun di balik sifat tersebut, terdapat keteguhan hati dan kepedulian terhadap sesama.
Simbol Wuku Mandhasiya berupa gedhong yang terkunci di depan melambangkan pribadi yang hemat dalam mengelola harta. Akan tetapi, saat memberi bantuan terkadang ingin diketahui banyak orang serta senang mendapat pujian.
Pohon asam menjadi simbol kesejukan hati dan kemampuan mengayomi orang yang sedang mengalami kesulitan. Sementara burung platuk bawang menggambarkan karakter pekerja keras sekaligus memiliki rasa welas asih yang tinggi.
Gambaran lain dalam Wuku Mandhasiya diibaratkan seperti batu hitam yang berada di bawah pohon besar dengan akar menghujam ke dalam tanah. Artinya, pribadi yang lahir pada wuku ini sebenarnya sangat sabar. Namun ketika amarah memuncak, emosinya sulit dibendung.
Baca Juga : Hindari Kendaraan Masuk SPBU, Truk Tebu Terguling Picu Kemacetan di Sumberpucung
Dalam primbon juga disebutkan adanya pantangan selama Wuku Mandhasiya, yakni tidak dianjurkan menggali tanah atau melakukan aktivitas yang berkaitan dengan bagian bawah tanah selama tujuh hari.
Selain itu, Minggu Pon di Wuku Mandhasiya dinilai kurang baik untuk melakukan perjalanan jauh karena dipercaya berpotensi menghadapi banyak rintangan. Karena itu, kehati-hatian lebih diutamakan apabila harus bepergian.
Dalam urusan karier, pemilik weton Minggu Pon dinilai cocok menekuni profesi yang membutuhkan kemampuan berpikir, kepemimpinan, dan kreativitas. Bidang seperti peneliti, pendidik, konsultan, hingga seniman dinilai selaras dengan karakter yang dimiliki.
Sementara dalam urusan asmara, weton Minggu Pon dengan neptu 12 dipercaya paling serasi dengan pasangan yang memiliki jumlah neptu 7, 12, atau 17. Weton yang termasuk dalam kategori tersebut antara lain Selasa Wage, Minggu Pon, Senin Kliwon, Selasa Pahing, Rabu Legi, Kamis Wage, Kamis Pahing, dan Sabtu Kliwon.
