Harga Pertamax Naik Bikin Antrean Pertalite di Kota Batu Mengular, Pengendara: Takut Motor Brebet Tapi Dompet Cekak
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Nurlayla Ratri
24 - Jun - 2026, 02:41
JATIMTIMES – Kebijakan pemerintah yang melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax per 10 Juni lalu memicu efek domino yang nyata di tingkat akar rumput. Mulai dari ojek online (ojol) hingga karyawan perusahaan.
Di Kota Batu, disparitas (selisih) harga yang kian menganga membuat sebagian besar pemilik kendaraan roda dua berbondong-bondong memindahkan pilihan konsumsinya ke BBM bersubsidi, Pertalite.
Baca Juga : Penumpang Bus Trans Jatim di Malang Raya Tembus 80 per Bulan
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (16/6), antrean kendaraan bermotor tampak mengular panjang di salah satu SPBU strategis di Jalan Panglima Sudirman, Kecamatan Batu. Pemandangan kontras ini terjadi sejak Pertamax resmi bertengger di angka Rp 16.250 per liter, melambung tinggi dari harga sebelumnya yang hanya Rp 12.300 per liter.
Kondisi tersebut menciptakan selisih harga mencapai Rp 6.250 per liter jika dibandingkan dengan Pertalite yang masih tertahan di angka Rp 10.000 per liter. Jurang harga inilah yang memaksa konsumen menepikan idealisme mereka terkait perawatan kendaraan.
Haris Setyawan (29), salah seorang pengendara motor yang tengah mengantre, mengaku didera dilema besar saat memutuskan beralih ke BBM bersubsidi. Di satu sisi, ia menyadari ada konsekuensi teknis yang harus ditanggung pada performa mesin motornya.
"Sebenarnya ada rasa khawatir, sebab banyak informasi yang menyebut kalau motor dipaksa pakai Pertalite tarikannya jadi kurang optimal atau sering brebet. Tapi melihat situasi sekarang, mau bagaimana lagi," keluh Haris.
Pegawai salah satu perusahaan swasta di Batu itu menambahkan, Pertamax baru akan kembali dilirik jika kondisi finansial pribadinya kembali longgar di kemudian hari.
Sikap pasrah juga ditunjukkan oleh Mohammad Soleh, warga asal Kelurahan Songgokerto. Demi menjaga keseimbangan isi dompet agar tidak jebol, ia terpaksa memangkas jatah pembelian bahan bakar nonsubsidi.
Baca Juga : Kusir Mulai Sepuh, Disparta Kota Batu Siapkan Formula Khusus Jaga Eksistensi Dokar Wisata
"Biasanya alokasi anggaran bensin saya itu Rp 25 ribu untuk dua liter Pertamax, itu cukup buat tiga hari. Sekarang, uang segitu jelas tidak akan dapat dua liter. Makanya sejak seminggu terakhir ini saya langsung putuskan pindah ke Pertalite," jabar Soleh.
Kini, Soleh memilih merumuskan ulang pengeluarannya dengan merogoh kocek Rp 30 ribu sekali isi untuk mengamankan tiga liter Pertalite. Skema darurat ini dinilainya jauh lebih masuk akal dan ekonomis guna menopang mobilitas harian di kota wisata ini.
"Secara kalkulasi, memang ada tambahan pengeluaran Rp 5 ribu dibanding kebiasaan lama saya. Tapi poin pentingnya adalah volume bensin yang saya bawa pulang sekarang jadi jauh lebih banyak dan mencukupi," pungkasnya.
