Menjahit Ulang Gerakan MDS Rijalul Ansor Tulungagung, Berikut Dawuh Gus Fahmi
Reporter
Anang Basso
Editor
Nurlayla Ratri
05 - Apr - 2026, 07:31
JATIMTIMES -Di tengah dinamika sosial keagamaan yang terus bergerak cepat, kebutuhan akan organisasi yang solid, terarah, dan memiliki visi bersama menjadi semakin mendesak. Hal inilah yang mendorong lahirnya semangat menjahit ulang gerakan di tubuh Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor, Kabupaten Tulungagung
Ketua MDS Rijalul Ansor, Agus Fahmi Arafat menuturkan, langkah ini adalah sebuah ikhtiar kolektif untuk memperkuat sinergitas gerakan dari tingkat ranting (desa) hingga pengurus cabang.
Baca Juga : Muscab VI DPC PKB Banyuwangi Munculkan Delapan Kandidat Ketua Tanfidz
"Langkah ini bukan sekadar konsolidasi struktural, melainkan upaya strategis membangun kesadaran bersama bahwa kekuatan organisasi tidak lahir dari individu yang hebat, tetapi dari barisan yang tertata rapi dan bergerak dalam satu arah perjuangan," ucap Gus Fahmi yang juga pengasuh Pondok Pesantren, Darul Falah Desa Bendiljati Kulon, Kecamatan Sumbergempol, Minggu (5/4/2026).
MDS Rijalul Ansor selama ini dikenal sebagai ruang kaderisasi spiritual dan ideologis di lingkungan GP Ansor. Di dalamnya, nilai-nilai dzikir, shalawat, serta penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah ditanamkan secara berkesinambungan.
"Karena itu, sinergitas antar level kepengurusan menjadi kunci agar gerakan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan antara hulu dan hilir organisasi," ujar kyai muda yang selalu tampil gondrong ini.
Ia juga menyampaikan bahwa penguatan koordinasi dari ranting hingga cabang bertujuan menyatukan visi gerakan.
“Ranting adalah denyut nadi organisasi, sementara cabang menjadi arah dan penguat kebijakan. Ketika keduanya tersambung dengan baik, maka gerakan akan hidup dan berdampak nyata di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Prinsip ini sejalan dengan maqolah ulama yang kerap menjadi pedoman gerakan: “Al-haq bila nidzomin yaghlibul bathil bin nidzom” — kebenaran yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebatilan yang terorganisir.
"Pesan tersebut menegaskan bahwa kebenaran saja tidak cukup, ia harus dibangun melalui sistem, kedisiplinan, dan kerja kolektif," tuturnya.
Dalam konteks Ansor dan Nahdlatul Ulama, MDS Rijalul Ansor memegang peran strategis sebagai ruang pembinaan generasi yang diproyeksikan menjadi calon ulama masa depan.
Baca Juga : Akademisi UM: Wisata Mikutopia Kota Batu Menyalahi Blue Print Pengembangan Wilayah
Melalui majelis dzikir dan shalawat, kader tidak hanya dibentuk secara spiritual, tetapi juga ditanamkan tanggung jawab sosial dan kepemimpinan keumatan.
"Karena itu, penataan gerakan menjadi kebutuhan mendesak. Sinergitas bukan hanya soal koordinasi program, tetapi juga penyamaan ruh perjuangan, menjaga tradisi, merawat persatuan, serta menguatkan Islam Aswaja An-Nahdliyah sebagai pilar moderasi dan kedamaian bangsa," terangnya.
Gerakan ini menurut Gus Fahmi, sekaligus menjadi cermin bahwa Ansor bukan sekadar organisasi kepemudaan, melainkan investasi masa depan Nahdlatul Ulama.
Ungkapan “Ansor adalah NU masa depan dan masa depan NU” menemukan relevansinya ketika kaderisasi berjalan terarah, kompak, dan berkelanjutan.
"Dengan semangat kebersamaan, MDS Rijalul Ansor diharapkan mampu menjadi simpul persatuan umat, menjaga harmoni sosial, sekaligus melahirkan generasi ulama yang tidak hanya alim secara keilmuan, tetapi juga matang dalam organisasi dan pengabdian masyarakat," paparnya.
"Menjahit ulang gerakan hari ini sejatinya adalah menyiapkan masa depan. Sebab organisasi yang kokoh lahir dari sinergi, dan sinergi hanya tumbuh dari hati yang kompak serta visi perjuangan yang sama — demi tegaknya Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di masa kini dan masa yang akan datang," tutupnya.
