Gamis Bini Orang Viral di Sosmed, Pakar Sebut Ada Makna Sosial di Baliknya

Reporter

Irsya Richa

Editor

A Yahya

22 - Mar - 2026, 07:51

Gamis bini orang dengan beragam warna. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Tren penamaan busana muslim Lebaran 2026 kembali memunculkan fenomena unik di kalangan penjual dan pembeli. Di sejumlah pusat perbelanjaan hingga toko daring, istilah gamis bini orang dan gamis istri sah ramai diperbincangkan. 

Penyebutan yang tidak biasa itu bahkan membuat banyak pembeli datang ke toko dengan langsung menyebut nama tersebut saat mencari model gamis yang sedang viral.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Fenomena ini bermula dari model gamis yang sebelumnya dikenal sebagai gamis Inara, merujuk pada gaya busana yang sering dikenakan oleh Inara Rusli. Influencer tersebut kerap tampil dengan gamis longgar yang elegan, menggunakan bahan lembut dengan sentuhan brokat yang memberi kesan anggun.

Penyebutan itu bermula dari candaan di antara penjual, namun akhirnya justru menyebar luas setelah muncul dalam berbagai konten video di platform seperti TikTok. Model yang dimaksud sebenarnya tidak jauh berbeda dengan koleksi modest wear sebelumnya.

Gamis tersebut biasanya menggunakan kain tencel yang ringan dan jatuh, dipadukan dengan detail brokat di bagian depan dengan potongan melengkung di bagian bawah. Bagian lengan dibuat model balon atau terompet sehingga memberi kesan feminin, sementara pilihan warnanya cenderung lembut seperti butter, cokelat susu, hingga broken white.

Di pasaran, harga gamis ini rata-rata dibanderol sekitar Rp 300 ribu per potong. Model tersebut disebut banyak diminati oleh remaja hingga ibu-ibu muda yang ingin tampil elegan saat Lebaran.

Tak lama setelah istilah itu viral, muncul pula penyebutan lain yakni gamis istri sahz Sebutan ini dianggap sebagai versi yang lebih halus, namun tetap pada konsep gamis yang memberikan kesan dewasa dan anggun.

Model ini umumnya memiliki tampilan layering yang lebih rapi dengan tambahan rompi panjang yang menyatu dengan gamis. Rompi tersebut bisa dikaitkan menggunakan kancing atau tali sehingga dapat dilepas. Pilihan warnanya pun lebih beragam, mulai dari hitam, pastel, hingga biru jins.

Harga gamis istri sah relatif lebih terjangkau. Model polos tanpa detail manik-manik biasanya dijual sekitar Rp 125 ribu hingga Rp 150 ribu, sedangkan bahan sifon dengan tambahan payet atau manik-manik dapat mencapai sekitar Rp 200 ribu.

Fenomena penamaan unik ini turut menjadi perhatian kalangan akademisi. Dosen dari Universitas Indonesia, Asri Saraswati menilai istilah seperti bini orang atau istri sah sebenarnya bisa memunculkan makna sosial tertentu terhadap perempuan.

Baca Juga : 7 Ide Kegiatan Seru di Kampung Halaman Saat Mudik Lebaran

“Penamaan seperti itu bisa memunculkan gambaran bahwa perempuan harus bersaing satu sama lain untuk menarik perhatian orang lain. Seolah-olah cara berpakaian perempuan ditujukan untuk mengesankan pihak lain, bukan sebagai bentuk ekspresi diri,” kata Asri.

Meski demikian, ia juga melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari kreativitas bahasa dalam strategi pemasaran. Di era perdagangan digital, kata-kata yang mudah diingat dan terdengar unik sering kali membantu produk lebih cepat dikenal oleh konsumen.

Hal senada disampaikan pengamat mode sekaligus perancang busana Lisa Fitria. Menurutnya, tren penamaan gamis yang nyeleneh ini kemungkinan hanya berlangsung sementara karena dipicu momentum menjelang Lebaran.

“Biasanya tren seperti ini muncul karena kebutuhan pasar menjelang hari raya. Saat minat masyarakat terhadap busana muslim meningkat, berbagai istilah unik digunakan untuk menarik perhatian pembeli. Namun setelah Lebaran, tren itu biasanya akan mereda dengan sendirinya,” kata Lisa.

Di tengah pro dan kontra yang muncul, satu hal yang pasti, kreativitas penamaan dalam dunia fesyen kini semakin menjadi bagian dari strategi pemasaran di era media sosial, di mana satu istilah unik dapat dengan cepat menjadikan sebuah produk viral.