Netizen Asia Tenggara ‘Serang’ Knetz, Mayoritas Emosi Negatif
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
03 - Mar - 2026, 06:45
JATIMTIMES - Baru-baru ini konflik netizen Asia Tenggara dan Korea Selatan memanas di media sosial. Riset terbaru dari BeData Technology mengungkap mayoritas percakapan di platform X dan YouTube didominasi sentimen negatif.
Analisis ini dilakukan menyusul polemik konser DAY6 di Malaysia pada Februari lalu yang dipicu dugaan pelanggaran aturan kamera oleh fansite asal Korea Selatan. Sejak saat itu, perdebatan antarwarganet meluas dan berubah menjadi konflik identitas kawasan.
Baca Juga : Iran Terancam Mundur dari Piala Dunia 2026, Siapa Penggantinya?
BeData mencatat, hasil klasifikasi sentimen di X menunjukkan percakapan didominasi sentimen negatif sebesar 57,9 persen. Sementara sentimen netral 24,8 persen dan positif hanya 17,2 persen.
Dominasi sentimen negatif mencerminkan kuatnya kemarahan, sindiran, hingga kritik emosional dalam konflik netizen Asia Tenggara, yang kerap menyebut diri sebagai “Seablings”, dengan Knetz (Korean netizens).

Di YouTube, kondisinya bahkan lebih tajam. Sebanyak 67,7 persen komentar masuk kategori negatif, 21,5 persen netral, dan hanya 10,8 persen positif. Artinya, kolom komentar lebih banyak diisi kemarahan dibanding diskusi santai atau ajakan damai.
Percakapan di X awalnya terpantau kecil pada 11 Februari, meningkat pada 12–14 Februari, stabil 15–16 Februari, lalu melonjak drastis pada 17–18 Februari. Lonjakan ini diduga dipicu retweet dan respons komunitas.
Grafik menunjukkan percakapan memuncak sekitar pukul 03.00 dini hari setelah naik sejak tengah malam. Intensitas lalu menurun pada pagi hingga siang hari dan kembali meningkat pada sore hingga malam, meski tidak setinggi puncak awal.
Di YouTube, diskusi mulai ramai sejak 15 Februari, meningkat pada 16 Februari, dan mencapai lonjakan terbesar pada 17 Februari seiring isu makin viral. Kolom komentar pun menjadi ruang utama ekspresi emosi netizen.
"Analisis kata kunci memperlihatkan diskusi tak lagi sekadar soal konser, tetapi melebar ke isu identitas nasional dan regional," demikian rilis BeData Technology.
Di X, kata seperti “korea”, “knetz”, dan “seablings” mendominasi. Sementara “indonesia”, “asia”, dan “tenggara” menunjukkan konflik bergeser ke identitas kawasan.
Istilah seperti “rasis”, “menghina”, “war”, bahkan ejekan seperti “monyet” dan “plastik” muncul dalam sentimen negatif. Meski begitu, konteks “konser”, “fan”, “idol”, dan “kpop” tetap menjadi akar pembahasan.
Pada sentimen positif, kata “asia”, “tenggara”, dan “indonesia” sering muncul dalam konteks solidaritas kawasan. Meski istilah seperti “menghina”, “perang”, dan “rasisme” masih muncul, nadanya lebih santai atau mencoba meredakan situasi.
Baca Juga : Sempat Panik Dengar Suara Dentuman di Dubai, Hafizah Cilik Asal Malang Aisyah Dipastikan Aman
Di YouTube, diskusi berpusat pada hubungan Korea Selatan dan Indonesia. Kata “rasis” menjadi pemicu emosi, disertai istilah “boikot”, “produk”, hingga pembahasan budaya populer seperti “kpop” dan “drakor”.
Komentar negatif banyak berisi generalisasi terhadap negara atau kelompok tertentu. Sementara komentar positif tetap membahas isu yang sama, namun dengan nada lebih ringan, ditandai kata seperti “suka”, “betul”, dan “maaf”.
BeData mencatat pola emosi yang konsisten di kedua platform. Yakni meliputi kemarahan atas penghinaan identitas. Kemudian solidaritas Asia Tenggara dengan simbol “SEAblings”.
Selain itu, riset ini juga menunjukkan sindiran dan humor sebagai balasan stereotip. Serta campuran serius dan candaan khas “drama internet”.
Secara keseluruhan, isu berkembang menjadi konflik identitas online yang sarat emosi dan pembelaan kelompok.
Untuk diketahui, data pad riset ini diambil dari 487 tweet hasil scraping menggunakan API dari twitterapi.io pada 11–18 Februari 2026, serta 3.544 komentar YouTube dari tiga video terkait isu tersebut.
Dari riset ini, dapat disimpulkan bahwa konflik digital dapat dengan cepat berubah menjadi ledakan percakapan besar ketika menyentuh emosi kolektif dan identitas kelompok. Hal ini lantas menjadikan media sosial sebagai arena perdebatan lintas negara.
