Khutbah Jumat 6 Februari: Bersihkan Hati Jelang Ramadhan, Saatnya Saling Memaafkan
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
06 - Feb - 2026, 08:42
JATIMTIMES - Tak ada manusia yang luput dari salah dan khilaf. Dalam keseharian, bisa jadi ada ucapan yang tanpa sengaja melukai, sikap yang mengecewakan, atau tindakan yang membuat orang lain tidak nyaman.
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Melalui khutbah Jumat kali ini, jemaah diajak untuk bersikap saling memaafkan sebagai bekal batin agar ibadah di bulan Ramadhan kelak lebih khusyuk, ringan, dan penuh keberkahan.
Baca Juga : Gempa Bumi Bermagnitudo 6,4 Guncang Pacitan Jatim, Getaran Terasa di Sebagian Wilayah Malang
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Ma’asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita memulai khutbah Jumat ini dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT seraya mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin, atas segala limpahan nikmat dan karunia yang telah dianugerahkan kepada kita semua. Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, dengan doa allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alih wa sahbih.
Pada kesempatan ini, sebagai khatib dalam pelaksanaan salat Jumat, izinkan kami menyampaikan wasiat takwa yang menjadi amanah bagi kami. Marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT dalam setiap fase kehidupan yang kita jalani.
Ketakwaan bukan hanya ditunjukkan melalui kesungguhan dalam menjalankan ibadah ritual, tetapi juga melalui keseriusan menjaga sikap dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat takwa akan terlihat ketika nilai-nilai ibadah tercermin dalam perilaku sosial kita. Ia tampak dalam kejujuran ucapan, ketulusan dalam pergaulan, serta kehati-hatian dalam memperlakukan sesama.
Ma’asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, kita akan segera memasuki bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan, di mana pintu-pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu-pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Bagi setiap muslim yang mendambakan ampunan Allah, tentu kedatangan bulan mulia ini sangat dinantikan.
Namun sebelum sampai pada Ramadhan yang penuh berkah itu, ada satu hal penting yang perlu kita siapkan, yaitu membersihkan hati dari berbagai penyakit yang tercela. Hati yang bersih akan memudahkan kita untuk khusyuk dalam beribadah, tulus dalam beramal, serta ikhlas dalam berbuat kebaikan. Salah satu jalan untuk menjernihkan hati adalah dengan saling memaafkan kesalahan satu sama lain.
Terkait hal tersebut, Allah memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, berupa jaminan surga yang luasnya seperti langit dan bumi. Mereka bukan hanya mendapatkan cinta Allah, tetapi juga dijanjikan tempat yang mulia di sisi-Nya. Allah SWT berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran: 133).
Penjelasan tentang siapa yang termasuk golongan bertakwa itu ditegaskan dalam ayat berikutnya, yakni mereka yang mampu mengendalikan amarah dan memaafkan kesalahan sesama manusia. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali ‘Imran: 134).
Ma’asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan istilah al-‘afina ‘anin nas, yang berarti orang-orang yang memaafkan kesalahan sesama. Maksudnya adalah mereka yang dengan lapang dada memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepadanya, meskipun sebenarnya memiliki kemampuan untuk membalas perlakuan tersebut.
Memaafkan pada tingkatan ini lebih tinggi nilainya dibanding sekadar menahan amarah. Seseorang mungkin saja mampu menahan emosi, tetapi di dalam hatinya masih tersimpan rasa benci dan dendam.
Adapun orang yang benar-benar memaafkan, ia tidak hanya mengendalikan amarahnya, tetapi juga membersihkan hatinya dari kebencian dan rasa dendam. Sikap memaafkan mencerminkan keluasan wawasan, kejernihan berpikir, serta kematangan pribadi.
Orang yang benar-benar memaafkan menjadi bukti kemampuan seseorang dalam menguasai diri, menundukkan ego, dan mengedepankan perdamaian dibanding pembalasan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir fil Aqidah was Syariah wal Manhaj, jilid IV halaman 88:
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Diprediksi Berlanjut Saat Awal Ramadan 2026, Ini Cara Jaga Tubuh Tetap Fit Saat Puasa
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ أَيِ الَّذِينَ يَتَسَامَحُونَ وَيَعْفُونَ عَمَّنْ أَسَاءَ إِلَيْهِمْ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى رَدِّ الِاعْتِدَاءِ، وَتِلْكَ مَنْزِلَةُ ضَبْطِ النَّفْسِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى سِعَةِ الْعَقْلِ وَرَجَاحَةِ الْفِكْرِ وَقُوَّةِ الْإِرَادَةِ وَمَتَانَةِ الشَّخْصِيَّةِ، وَهِيَ أَرْقَى مِنْ كَظْمِ الْغَيْظِ، إِذْ رُبَّمَا كَظَمَ الْمَرْءُ غَيْظَهُ عَلَى الْحِقْدِ وَالضَّغِينَةِ
Artinya: “Dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain, yaitu mereka yang bersikap lapang dan memberi maaf kepada orang yang berbuat buruk kepada mereka, padahal mereka mampu membalas perlakuan tersebut. Itulah derajat pengendalian diri yang menunjukkan keluasan akal, kejernihan pikiran, kekuatan kehendak, dan keteguhan kepribadian. Derajat ini lebih tinggi daripada sekadar menahan amarah, karena bisa jadi seseorang menahan marahnya, tetapi masih menyimpan rasa dendam dan kebencian.”
Ma’asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Oleh karena itu, mari kita manfaatkan momentum menjelang Ramadhan ini untuk saling memaafkan dan membersihkan hati dari segala noda serta kesalahan. Dengan hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan pikiran yang jernih, kita dapat memasuki bulan suci dengan kesiapan yang lebih baik.
InsyaAllah, dengan persiapan tersebut, kita akan mampu meraih keberkahan dan ampunan Allah SWT, serta termasuk hamba-hamba-Nya yang muttaqin, yang berhak mendapatkan surga seluas langit dan bumi.
Demikian khutbah Jumat tentang pentingnya saling memaafkan sebagai bekal menyambut Ramadhan. Semoga khutbah jumat kali ini mampu mengetuk hati kita untuk saling memberi maaf, membersihkan diri dari kebencian dan dendam, serta menyiapkan diri menyambut bulan suci dengan hati yang suci dan jiwa yang lapang.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, menghapus dosa-dosa kita, serta memberikan kekuatan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mudah-mudahan khutbah ini membawa kebaikan dan keberkahan bagi kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيما
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
