Heboh Megatsunami di 2026, Apa Bedanya dengan Tsunami Biasa dan Seberapa Besar Ancamannya?

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

30 - Jan - 2026, 06:50

Ilustrasi Megatsunami. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Tsunami selama ini dikenal sebagai salah satu bencana alam paling menakutkan bagi wilayah pesisir. Namun, para ahli mencatat ada fenomena yang jauh lebih ekstrem dibanding tsunami pada umumnya, yakni megatsunami.

Istilah ini kembali ramai dibahas baru-baru ini, setelah sejumlah riset geologi menyoroti bagaimana longsoran es dan batu dalam skala besar bisa memicu gelombang raksasa yang kekuatannya bahkan mampu membuat Bumi bergetar selama berhari-hari. Hingga Jumat (30/1/2026) sore, nama megatsunami menjadi trending dalam penelusuran Google. Banyak warganet yang mencaritahu soal hal ini. 

Baca Juga : Pemkot Malang Kunci Harga Pangan Jelang Ramadan, GPM Bakal Menyebar ke 57 Kelurahan

Lantas, sebenarnya apa itu megatsunami? Apa bedanya dengan tsunami biasa? Dan apakah fenomena ini berpotensi mengancam di masa mendatang?

Apa Itu Megatsunami?

Secara ilmiah, megatsunami adalah gelombang tsunami dengan amplitudo awal yang sangat ekstrem. Jika tsunami biasa umumnya hanya memiliki ketinggian kecil di laut dalam lalu membesar ketika mendekati pantai, megatsunami justru sudah raksasa sejak awal terbentuk.

Para ilmuwan mendefinisikan megatsunami sebagai tsunami dengan ketinggian awal biasanya lebih dari 100 meter, bahkan dalam kasus tertentu bisa mencapai ratusan meter.

Fenomena ini menjadi sorotan setelah publikasi riset mengenai peristiwa di Dickson Fjord, Greenland, yang menunjukkan longsoran es dan batu dapat memicu gelombang besar yang efeknya terasa sangat lama.

Banyak orang mengira megatsunami hanyalah versi "lebih tinggi" dari tsunami biasa. Padahal, mekanisme pembentukannya berbeda secara fisika.

Tsunami tektonik umumnya terjadi akibat pergeseran lempeng bumi di dasar laut, sementara megatsunami lebih sering dipicu oleh perpindahan massa besar secara tiba-tiba.

Secara sederhana, perbedaan keduanya bisa dilihat dari beberapa aspek utama:
• Penyebab tsunami biasa: gempa tektonik bawah laut
• Penyebab megatsunami: longsoran batu/es raksasa, letusan gunung api, hingga hantaman asteroid

Dari sisi ketinggian, tsunami biasa di laut dalam cenderung rendah, sedangkan megatsunami bisa langsung menjulang sejak sumbernya, bahkan disebut mampu melampaui gedung pencakar langit.

Selain itu, energi tsunami biasa bisa menjangkau sangat luas hingga lintas samudra, sedangkan megatsunami biasanya sangat destruktif secara lokal, namun energinya lebih cepat melemah pada jarak jauh.

Apa Penyebab Terjadinya Megatsunami?

Para ahli geologi mengidentifikasi beberapa pemicu utama yang dapat melahirkan megatsunami.
1. Longsoran raksasa (landslides)
Ini disebut sebagai penyebab paling umum. Runtuhnya tebing gunung, sisi pulau vulkanik, atau gletser dalam jumlah jutaan ton ke laut dapat menciptakan efek "cipratan" raksasa yang membangkitkan gelombang ekstrem.

2. Letusan gunung berapi
Keruntuhan kaldera atau sisi gunung api laut juga bisa memicu megatsunami. Contoh yang sering dibahas adalah skenario keruntuhan sisi Gunung Cumbre Vieja di Kepulauan Canary, meski masih berupa model teori.

Peristiwa Anak Krakatau 2018 sendiri memicu tsunami, meski skalanya jauh lebih kecil dibanding megatsunami.

3. Hantaman asteroid
Jika asteroid besar jatuh ke samudra, energi kinetiknya dapat menghasilkan gelombang setinggi kilometer. Skenario ini dikaitkan dengan peristiwa kepunahan dinosaurus sekitar 65 juta tahun lalu.

Sejarah Dunia Pernah Mencatat Megatsunami

Meski sangat jarang, megatsunami bukan sekadar teori. Beberapa kejadian besar pernah tercatat dalam sejarah.

1. Lituya Bay, Alaska (1958) – Rekor Gelombang Tertinggi
Peristiwa paling ikonik terjadi pada 9 Juli 1958 di Lituya Bay, Alaska. Gempa berkekuatan 7,8 magnitudo memicu longsoran batu raksasa ke dalam teluk sempit.

Baca Juga : Komisi A DPRD Jatim Soroti Banyak Posisi Strategis di Pemprov Masih Dijabat Plt

Gelombang yang terbentuk mencapai ketinggian luar biasa, yakni 524 meter, lebih tinggi dari Empire State Building. Gelombang itu membabat habis pepohonan di lereng bukit seberangnya hingga ketinggian tersebut.

2. Megatsunami Ambon, Indonesia (1674)
Indonesia juga memiliki catatan sejarah kelam. Pada tahun 1674, wilayah Ambon dihantam gelombang besar yang dicatat naturalis Georg Eberhard Rumphius setinggi "lebih dari puncak pohon kelapa" dan bahkan mencapai perbukitan.

Analisis modern mengategorikan peristiwa ini sebagai megatsunami akibat longsoran bawah laut yang dipicu gempa.

3. Dickson Fjord, Greenland (2023)
Peristiwa yang baru dianalisis tuntas pada akhir 2024 hingga 2025 adalah megatsunami di Greenland. Longsoran gletser memicu gelombang setinggi sekitar 200 meter yang terperangkap dalam fjord.

Uniknya, energi gelombang tersebut menciptakan seiche atau gelombang berdiri yang membuat Bumi bergetar dengan frekuensi rendah selama 9 hari berturut-turut.

Megatsunami dan Ancaman Masa Depan di 2026

Di tahun 2026, perhatian ilmuwan juga tertuju pada kaitan megatsunami dengan perubahan iklim.

Pemanasan global menyebabkan pencairan permafrost dan gletser di wilayah kutub seperti Alaska, Greenland, hingga Antartika. Kondisi ini membuat lereng-lereng gunung es menjadi tidak stabil.

Jika tebing es raksasa runtuh ke laut, megatsunami lokal berpotensi terjadi dan dapat menghancurkan infrastruktur pesisir maupun kapal yang melintas.

Selain itu, zona subduksi seperti Cascadia di Amerika Utara terus dipantau karena berpotensi memicu gempa besar yang dapat disertai longsoran bawah laut masif.

Indonesia sendiri, sebagai negara cincin api dengan banyak wilayah pesisir dan potensi longsoran bawah laut, juga perlu meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan risiko bencana semacam ini.

Demikian informasi mengenai pengertian megatsunami sebagai fenomena langka namun sangat destruktif. Berbeda dari tsunami tektonik biasa, megatsunami umumnya dipicu oleh longsoran raksasa, runtuhnya gunung api, atau bahkan asteroid.

Meski frekuensinya jarang, dampaknya bisa katastropik total di wilayah terdampak. Karena itu, pemantauan lereng gunung yang tidak stabil, riset geologi, serta sistem mitigasi berbasis satelit menjadi kunci untuk menghadapi ancaman bencana ekstrem di masa depan. Semoga informasi ini membantu ya.