Berbahaya! Begini Cara Anak-anak Menyuling Material Emas
Reporter
Mahrus Sholih
Editor
Redaksi
21 - Oct - 2015, 10:17
JATIMTIMES, JEMBER – Setelah mendapatkan material emas dari gunung, anak-anak itu kemudian melakukan penyulingan menggunakan alat yang diberi nama mesin gelondong. Alat itu terbuat dari besi yang berbentuk tabung dengan diberi penutup di atasnya.
Untuk memutarkan alat gelondong itu, diberi alat pengait berupa sabuk karet yang dihubungkan dengan mesin dinamo yang teraliri listrik.
“Setiap zak (karung beras) material emas, digelondong sebanyak dua kali. Setelah dimasukkan kedalam alat gelondong, kemudian ditutup dan dinamonya dihidupkan. Setelah itu alat akan berputar. Biasanya kami menunggu antara 1 sampai 2 jam baru diangkat untuk disuling,” kata Tole (bukan nama sebenarnya) kepada JEMBERTIMES, saat diwawancarai di ruang guru tempat dia bersekolah, Rabu pekan lalu.
Setelah lembut, material emas tersebut dicampuri air raksa untuk kemudian digiling ulang selama 30 menit. Selepas itu, tahapan penyulingan dilakukan dengan menggunakan cawan yang terbuat dari plastik.
“Setelah bijih emasnya terlihat menggumpal baru diperas menggunakan kanebo (lap motor/mobil), kanebo diperas dan emasnya akan menggumpal di dalam kanebo tersebut,” paparnya.
Namun yang mengejutkan, sesuai pengakuan Tole, limbah air raksa dan material emas yang telah disuling dibuang di kubangan tanah, yang oleh masyarkat setempat disebut joglangan.
Padahal air raksa tersebut dapat mencemari lingkungan, baik tanah maupun kandungan air yang berada di dalam tanah.
Tole menuturkan, aktifitas itu dia lakoni selama 2 tahun terakhir, sejak dia berada di kelas I Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP).
Kacong (nama samaran) juga mengakui hal yang sama. Teman sekelas Tole itu mengatakan, dalam sekali nambang dia bisa mendapatkan Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. Sebagian penghasilan itu mereka berikan kepada orang tua. Sisanya, untuk jajan.
“Ya nggak mesti, kalau pas dapat rejeki sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu, tapi terkadang ya nggak dapat sama sekali,” ujar Kacong.
Hasil penyulingan emas itu, mereka akui dijual di salah satu toko emas yang berada di wilayah pasar kecamatan Ambulu dan Wuluhan. Untuk setiap gramnya, gumpalan emas itu dihargai Rp 330 ribu oleh sang pemilik toko.
Sebenarnya, Tole dan Kacong adalah gambaran kecil dari keterlibatan anak-anak di pertambangan tanpa ijin di kawasan Gunung Manggar Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan.
Selain mereka berdua, masih ada lagi belasan anak lainnya yang juga terlibat dalam aktifitas yang membahayakan keselamatan dan kesehatan mereka.
Sebagaimana diketahui, aktifitas tambang emas liar di Gunung Manggar, terjadi sejak 3 tahun terakhir. Setidaknya ada ribuan orang yang turut menambang.
Walaupun saat ini jumlahnya kian menurun. Meski tak ada data resmi, namun diperkirakan ratusan warga masih aktif menambang di area yang menjadi pangkuan Perhutani Jember, di Kecamatan Wuluhan tersebut. (*)
