Anak-anak Pekerja Tambang Emas Rawan Terpapar Bahan Kimia

Reporter

Mahrus Sholih

Editor

Redaksi

21 - Oct - 2015, 09:23

Ilustrasi anak di tambang emas.(Foto : sayangi.com)

JATIMTIMES, JEMBER – Sejumlah anak yang terlibat dalam aktifitas pertambangan emas tanpa i\zin di kawasan Gunung Manggar Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, rentan terpapar bahan kimia. Hal itu diketahui dari pengakuan dua anak yang pernah turut menggali serta menyuling material emas tersebut.

“Biasanya setelah menggali tambang, tanahnya kami angkut menggunakan zak (karung beras) yang berukuran kecil. Setelah itu kami suling menggunakan alat gelondong dengan menggunakan air raksa,” kata Tole (bukan nama sebenarnya), saat diwawancarai JEMBERTIMES di ruang guru tempat dia bersekolah, Rabu pekan lalu.

Pelajar Madrasah Tsanawiyah (setara SMP) kelas III tersebut, mengaku sudah menjadi hal yang lumrah jika dia dan teman sebayanya yang lain, turut membantu melakukan penyulingan material tambang. Terlebih, jika yang disuling itu adalah hasilnya menambang sendiri.

Namun yang membuat miris, saat melakukan penyulingan dengan bahan kimia berbahaya itu, anak-anak tak menggunakan alat pengaman apapun. Baik sarung tangan, masker, maupun alat pelindung lain yang dapat menghindarkan kontaminasi racun mercury terhadap tubuh anak.

“Kami tak menggunakan (alat pengaman) apapun. Cuma setelah selesai menyuling kami membersihkan tangan menggunakan sabun,” jelas Tole.

Senada dengan dia, Kacong (nama samaran) juga melakukan yang sama. Teman satu kelas Tole itu menuturkan, setidaknya butuh waktu dua jam untuk menyuling material emas sampai mendapatkan bijih emas yang siap jual.

Selama itu, Kacong terus menggunakan air raksa untuk memisahkan bijih emas dari material tambang yang lain, seperti tanah maupun pasir. “Setiap kali menyuling, butuh waktu satu hingga dua jam. Tergantung seberapa banyak material tambang yang digelondong,” ujarnya.

Sebenarnya, kedua anak itu mengetahui bahaya dari penggunaan air raksa, terutama terhadap kesehatan dirinya. Akan tetapi, mereka tetap mengabaikan itu karena semua penambang yang melakukan penyulingan juga melakukan hal sama, yakni menggunakan mercuri tanpa pengaman.

Sebagaimana diinformasikan dalam laman Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), air raksa atau mercury adalah Logam berat berbentuk cairan, sedikit menguap pada suhu kamar, berwarna mengkilap seperti perak, dan tidak berbau.

Bahayanya, jika bersentuhan langsung mercuri dapat menimbulkan kemungkinan korosif pada logam, berakibat fatal jika tertelan dan masuk ke dalam saluran pernafasan, merusak fertilitas atau janin.

Selain itu juga dapat menyebabkan gejala alergi atau gejala asma atau sulit bernafas jika terhirup, menyebabkan reaksi alergi pada kulit, dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan susunan syaraf pusat pada paparan tunggal dan berulang, bisa menimbulkan iritasi serius pada mata dan kulit, serta sangat beracun pada kehidupan perairan. (*)